Archive for April, 2007

Paris Trip, 1st day

Friday, April 20th, 2007


To
see closely Eiffel tower was one of my wife dreams. One month ago,
Thalys news letter was in my mailbox and advertised red day promotion,
to Paris only 19 euro one way. Regular price vary from 30 to around 80
euro. I booked the ticket, but the some
reasonable price hotels were fully booked since it was holiday, fortunately one was available for us.

 


Tuesday 3 april 11.45AM we headed to paris using a high speed train, Thalys. Travel time from Brussels midi/zuid station to Paris Gare du Nord is normally 1 hour, 22 minutes, for a distance of approximately 300 km Peak speed of thalys is 300 km/h on a dedicated high-speed railway track.

 

 

After arrival around 12 o’clock, I bought one-day
ticket for transportation in Paris, it’s around 8 euro, for three days
around 18 euros, but your need photograph required. In the locket you
can also ask for free map.Then, we went to the hostel to put some bags. It is located near place monge metro station so easily to reach.

 


From
hotel by foot the first site visited was Pantheon but nothing special,
then we reached Notre-Dame de Paris. Notre Dame de Paris is a Gothic
cathedral on the eastern half of the Île de la Cité in Paris, France.
It is widely considered one of the finest examples of French Gothic
architecture. It was restored and saved from destruction by
Viollet-le-Duc, one of France’s most famous architects. It is also
famous by story of The Hunchback of Notre Dame the novel by Victor
Hugo. We’re nit interested to go inside, juts taking pictures and rest
around one hour there. Around there you can find also Ile de la Cite, La Conciergerie, Saint Chapelle, Musee National du Moyen-Age-Thermes de cluny and Hotel de ville.

 

 


Since
limited time we took metro number one to Charles de Gaulle etoille,
where Arc de Triomphe located. Planned by Napoleon as a military
monument to his military prowess and designed by Jean Chalgrin in 1806,
it stands over 51 meters (165 feet) in height and is 45 meters wide.
Beneath it you can find eternal flame in the Tomb of the Unknown
Soldier. Remember, to reach the arch don’t cross the street since it is
a busy intersection of 8 roads, use underpass located in the
Champs-elysees. You can also reach the top. It is suggested to walk
along the Avenue des Champs-Elysées, the traditional end of the last
stage of the Tour de France. But we didn’t have time for it.

After taking several ‘evidence’, metro number 6 brought us to Bir Hakeim station, few meters from the famous tower.

 


At
the first sight, nothing special like what we imagine in Eiffel tower,
just a pile of iron. The Eiffel Tower (La Tour Eiffel) is an iron tower
built from 18.000 metal section on the Champ de Mars and one of the
tallest structures in Paris and possibly one of the most recognized
monuments in the world. Named after its designer, engineer Gustave
Eiffel, it is the most visited monument in the world. Including
the 24 m (78.7 ft) antenna, the structure is 324 m (1,063 ft) high
(since 2000), which is equivalent to about 81 levels in a conventional
building. Constracted in 1887. The structure of the Eiffel Tower weighs
7,300 tons. There are 1,665 steps (360 to the first level, another 359
to the second).

 

 

Walking around it and taking pictures spend our last energy. Long line of people want to go up made us cancel to see Paris from the top of Eiffel. There
are three levels, first levels you can reach it by climbing the stairs
about 5 minutes. I didn’t go there since I brought small kids. Second
level you have to use elevators. The third level is the highest one,
but not recommended except its clearly day.
To
get nice picture, we walked to Trocadero, but we stopped in the park in
front Trocadero since my wife energy was vanished. But finally we could
make nice pictures from it using our tripod.

I promised to Aisya and Danish that we will take boat trip along the Seine river in Paris. The
seine runs 774 km /481 miles and was used by 700 Viking to invade
Paris. Around 7 PM we took the trip although the sun started hiding.
There are several boats, we choose the one with English guide and pay
10 euro/person. Also long line to get inside the boat since it can load
more than 500 passengers. The trip take around 1 hour. It was very
nice trip. You can see the most beautiful part of Paris from the boat
such as Musee du Louvree, ancient and modern bridges. After jump off on
the dock we saw the golden Eiffel.

Many
people say that Eiffel tower in the night when every girder is
illuminated is gorgeous, that is true. But you better to see it with
sparkling light in very hour. We were so exhausted then we went to hostel to take a rest.

IPDN lagi IPDN lagi..g kapok2 yaah

Monday, April 9th, 2007

TRAGEDI IPDN.
Wajah pendidikan kedinasan milik pemerintah kembali
tercoreng. Kali ini giliran Cliff Muntu, Praja Madya tingkat dua
akhirnya harus menghembuskan nafas terakhir akibat penganiayaan yang
dilakukan para seniornya di kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri
(IPDN) yang dulu bernama STPDN di Jatinangor, Sumedang Jawa Barat.
Entah kesalahan apa yang dibuatnya hingga seniornya tega melakukan
penganiayaan yang berbuntut pada kematian.

Dari hasil otopsi yang
dilakukan oleh Tim Forensik RS Hasan Sadikin Bandung ada beberapa luka
di tubuh Cliff Muntu, seperti jantung memar, pendarahan di jantung dan
buah zakarnya bengkak. Selain itu, ditemukan pembengkakan pada
paru-paru, bibir dan punggung membiru serta memar di bagian kepala
kanan atas dan kiri belakang. Kepala Pusat Hukum dan HAM Mabes Polri,
Kombes Polisi Anton Tabah mengatakan, sudah seharusnya sistem
pendidikan di IPDN diubah. Jika tidak mau diubah, sebaiknya IPDN
dibubarkan.

Sementara salah seorang Dosen IPDN Inu Kencana menilai,
rusaknya sistem pendidikan di IPDN lebih disebabkan rendahnya moral
para pendidiknya. Pasalnya, banyak para dosen di IPDN moralitasnya
sangat rendah. Kasus kematian yang dialami Cliff Muntu memang bukan
yang pertama kali terjadi di IPDN. Jika kasus ini tidak ditangani
dengan serius niscaya kematian demi kematian akan terulang kembali.
Harapan orang tua agar anak-anaknya memperoleh pendidikan dan masa
depan yang baik akan dicekam rasa ketakutan. Oleh karenanya, pembinaan,
kontrol dan pendidik yang baik serta profesional di bidangnya mungkin
akan sedikit membenahi dan merubah citra sekolah yang selalu
digambarkan dengan kekejaman dalam mendidik siswa-siswinya

istri sholehah

Monday, April 9th, 2007

Isteri Solehah

 Sentiasa
bersyukur, tidak cerewet atau merungut

 

Ketika Nabi
Ibrahim menziarahi menantunya,
puteranya, Nabi Ismail tiada di rumah sedangkan isterinya belum pernah  bertemu
bapa  mertuanya, Nabi  Ibrahim.

Kemudian terjadilah  dialog  antara Nabi Ibrahim dan menantunya.

Nabi Ibrahim     :
Siapakah kamu?

Menantu          
:  Aku isteri Ismail.

Nabi Ibrahim     :  Di
manakah suamimu, Ismail?

Menantu          
:  Dia pergi berburu.

Nabi Ibrahim     :
Bagaimanakah keadaan hidupmu sekeluarga?

Menantu          
: Oh, kami semua dalam kesempitan dan (mengeluh) tidak

                           
pernah senang dan lapang.

Nabi Ibrahim     :
Baiklah!  Jika suamimu  balik,  sampaikan  salamku padanya.


                           
Katakan padanya, tukar  tiang  pintu rumahnya (sebagai kiasan

                           
supaya   menceraikan isterinya).

Menantu          
:  Ya, baiklah.

Setelah
Nabi  Ismail  pulang  daripada  berburu,  isterinya
terus menceritakan tentang orang tua yang telah singgah di rumah mereka.

Nabi
Ismail       : Adakah apa-apa yang ditanya oleh
orang tua itu?

Isteri               
:  Dia bertanya tentang keadaan hidup kita.

Nabi Ismail      
:  Apa jawabanmu?

Isteri               
:  Aku ceritakan kita ini orang yang susah. Hidup  kita ini selalu
dalam

                         
kesempitan, tidak pernah senang.

Nabi Ismail      
:  Adakah dia berpesan apa-apa?

Isteri               
:  Ya ada. Dia berpesan supaya aku menyampaikan  salam

                         
kepadamu serta meminta kamu menukarkan tiang  pintu rumahmu.

Nabi
Ismail       :  Sebenarnya  dia
itu  ayahku.  Dia  menyuruh  kita berpisah.

                         
Sekarang  kembalilah  kau  kepada keluargamu.

Ismail  pun  menceraikan
isterinya  yang  suka  merungut,  tidak bertimbang
rasa serta tidak bersyukur kepada takdir   Allah  SWT.
Sanggup  pula mendedahkan rahasia rumah tangga kepada  orang
luar.

Tidak lama selepas  itu, Nabi Ismail nikah lagi. Setelah  sekian lama,  Nabi  Ibrahim
datang lagi ke Makkah  dengan  tujuan menziarahi  anak dan
menantunya.
Berlakulah lagi pertemuan  antara mertua dan menantu yang saling
tidak mengenali.

Nabi Ibrahim     :
Dimana suamimu?

Menantu          
:  Dia tiada dirumah. Dia sedang memburu.

Nabi Ibrahim     :
Bagaimana keadaan hidupmu sekeluarga?

                           
Mudah-mudahan dalam kesenangan?

Menantu          
:  Syukurlah kepada tuhan, kami semua  dalam  keadaan sejahtera,


                           
tiada apa yang kurang.

Nabi Ibrahim     :
Baguslah kalau begitu.

Menantu          
:  Silalah  duduk  sebentar.  Boleh  saya
hidangkan

                           
sedikit  makanan.

Nabi Ibrahim     :  Apa
pula yang ingin kamu hidangkan?

Menantu          
:  ada  s
edikit daging, tunggulah saya sediakan minuman dahulu.
Nabi Ibrahim     :
(Berdoa) Ya Allah! Ya Tuhanku!  Berkatilah  mereka

                           
dalam makan minum mereka. (Berdasarkan peristiwa  ini,

                           
Rasulullah beranggapan keadaan mewah negeri Makkah adalah

                           
berkat doa Nabi Ibrahim).

Nabi Ibrahim     :
Baiklah, nanti apabila suamimu  pulang,  sampaikan salamku kpdnya
. Suruhlah dia menetapkan  tiang pintu rumahnya
                           
sebagai kiasan untuk  mengekalkan isteri Nabi Ismail).

Apabila  Nabi Ismail pulang daripada
berburu, seperti  biasa dia bertanya sekiranya sesiapa datang datang
mencarinya.

Nabi Ismail      
:  ada

sesiapa datang semasa aku tiada di rumah?

Isteri               
:  Ya,  ada.  Seorang  tua yang  baik rupanya dan
perwatakannya

                         
sepertimu.

Nabi Ismail      
:  Apa katanya?

Isteri               
:  Dia bertanya tentang keadaan hidup kita.

Nabi Ismail      
:  Apa jawapanmu?

Isteri               
:  Aku nyatakan kepadanya hidup kita dalam keadaan baik, tiada

                         
apapun  yang kurang.
Aku ajak juga dia makan  dan minum.
Nabi Ismail      
:  Adakah dia berpesan apa-apa?

Isteri               
:  Ada, dia berkirim salam buatmu dan  menyuruh kamu

                         
mengekalkan tiang pintu rumahmu.

Nabi Ismail      
:  Oh, begitu. Sebenarnya dialah ayahku. Tiang  pintu yang

                         
dimaksudkannya itu ialah dirimu yang dimintanya untuk aku

                         
kekalkan.

Isteri               
:  Alhamdulillah, syukur.

Berpandukan sejarah  tersebut, dpt
ditegaskan bahwa isteri solehah itu sepatutnya ‘sabar
di hati dan syukur pada wajah’. Daripada sini akan terpancar ketenangan setiap
kali  suami  berhadapan dengan  isteri  salehah. Isteri
salehah tidak cerewet  dan  tidak mudah merungut. Isteri salehah
hendaklah sentiasa bersyukur dalam keadaan senang  mahupun
susah  supaya  Allah  tambahkan  lagi rahmat-Nya seperti
firman-Nya yang bermaksud:

“Sesungguhnya  jika  kamu
bersyukur,  pasti  Aku tambahkan  nikmat-Ku kepadamu.
Dan jika kamu
mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku amat pedih.”  (Surah
Ibrahim, ayat 7)

Untuk
menambahkan kegigihan kita berusaha menjadi isteri salehah, ingatlah hadis
Rasulullah yang bermaksud:

“Sampaikanlah
kepada sesiapa yang engkau temui daripada  kaum wanita, bahawasanya taat
kepada suami serta mengakui  haknya adalah menyamai pahala orang yang
berjihad pada jalan Allah, tetapi sangat sedikit sekali golongan kamu yang
dapat melakukan demikian.”

(Riwayat Al-Bazzar dan Ath-Thabrani)

Begitulah,  untuk
menyediakan  diri  sebagai isteri salehah,  hati
kita  hendaklah sentiasa  dipenuhi  dengan  kasih sayang
rabbani. Contoh teladan yang sepatutnya jadi rujukan kita ialah sejarah
kehidupan nabi serta orang saleh.

 

Sumber: http://members.tripod.com/~dppkd/shoutus/muslimat1.htm